Fungsi Uji Normalitas
Apa gunanya uji normalitas? hanya mempersulit, mempersempit sampel saja!!!
Jika itu pernah terlintas di benak anda, Bayangkanlah anda baru bekerja di rumah sakit X, Hanya diperoleh informasi rata-rata total bayi yang ditangani dalam sebulan 600, rata-rata berat badan bayi 2,7 KG dengan simpangan baku 0,5. Pimpinan anda berkata ada penanganan khusus yang jauh lebih ekstra sigap bagi bayi yang beratnya kurang dari 2 KG.
terus kira-kira berapa kali tim anda ekstra sigap dalam 1 bulan?
Itulah fungsinya uji normalitas. Jika diketahui data berat badan bayi berdistribusi normal, inilah jawabannya.
terus kira-kira berapa kali tim anda ekstra sigap dalam 1 bulan?
Itulah fungsinya uji normalitas. Jika diketahui data berat badan bayi berdistribusi normal, inilah jawabannya.
N =690
R = 2,7
Sb = 0,5
Re = 2
Z =(Re-R)/sb = (2– 2,7)/0,5 = -1,4.
Lihat tabel Z berapa peluang Z= -1,4?
Ternyata diperoleh peluangnya 0,0808.
Terus ada berapa kira-kira itu bayi kurang dari 2 KG per bulan? Ekstra sigap berapa kali timku?
Tar dulu,
Kamu rutin melewati lampu merah, peluang ketemu hijau Cuma ¼ kira-kira berapa kali “pas” ketemu hijau jika lewat disitu 8 kali? Nah itu gampang berati 8 x ¼ = 2. Artinya kemungkinan Cuma 2 kali aja langsung ketemu ijo dari delapan kali.
Iya terus kasus bayi?
sama tinggal kalikan saja 690 x 0,0808 = 55,75 dibulatkan jadi 56.
Jadi 56 kali perbulan tim anda harus ekstra sigap.
Jadi 56 kali perbulan tim anda harus ekstra sigap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar